Just another WordPress.com site

Ketika musim haji, seringkali kita melihat anak kecil ikut serta mengenakan ihram sedang digendong ayahandanya. Lucu dan mengemaskan, apalagi ketika sedang dipanggul di atas pundak ayahnya. Ini benar-benar mengemaskan bagi setiap orang yang melihatnya. Dasar anak kecil, walaupun mengenakan pakaian ihram, tetap saja maunya bermain-main. Dimanapun berada, bermain adalah dunia anak-anak, tak terkecuali sedang mengenakan pakaian ihram di pelataran baitullah.

Secara aturan syariat agama, anak-anak tidak diwajibkan melaksanakan ibadah haji.  Sebab, kewajiban haji itu bagi muslim yang sudah baligh. Namun, apabila dia telah melaksanakan haji, hajinya sah tetapi bukan berarti telah melaksanakan haji wajib. Jika telah dewasa kelak, ternyata mampu (istito’ah), maka wajib baginya menunaikan haji kembali. Jika tidak bisa melaksanakan, karena tidak mampu, tidak wajib baginya menunaikan haji kembalinya.

Diriwayatkan ada seorang wanita menggendong anak kecil mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata:’’ Apakah anak ini boleh melaksanakan haji?Beliau menjawab,:’’Boleh, engkau mendapat pahala. Jadi, pelaksanaan ibadah haji dan umrah ketika masih usia balita (kecil), orangtuanya yang mendapatkan pahalanya, dan orangtunya juga yang akan mendapatkan dosa, jika tidak dijaga dengan sebaik-baiknya ketika sedang mengenakan pakaian ihram.

Dari Jabir r.a, belaiu berkata:” dahulu kami melaksanakan Ibadah Haji bersama Kanjeng Nabi, ikut pula bersama kami para wanita dan anak-anak kecil, kami membacakan talbiyah untuk anak-anak kecil dan juga melontarkan jumrah untuk mereka.

Apabila anak kecil melaksanakan haji sebelum baligh, dia masih wajib melaksanakan haji bila dia sudah balihg. Demikian pula hamba sahaya, apabila melaksanakan haji ketika dalam keadaan budak kemudian dia merdeka, maka dia masih wajib melaksanakan haji jika telah mampu.

Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah Saw.  pernah bersabda:’’Anak kecil mana saja yang melaksanakan haji, setelah balig dia wajib melaksanakan haji sekali lagi. Siapa saja hamba yang melaksanakan haji kemudian merdeka, dia wajib melaksanakan haji sekali lagi.”Jika anak kecil tersebut sudah mumayyiz, maka dia berniat ihram untuk dirinya sendiri dan melaksanakan manasik haji. Jika belum mumayyiz, maka walinyalah yang meniatkan ihram, mentalbiyahkan, thawaf dan sa’i bersamanya, wukuf di Arafah dan melontarkan jumrah untuknya.Jika ia baligh sebelum wuquf di Arafah atau di Arafah, maka ia mendapatkan pahala haji Islam. Imam Malik berpendapat, “Hajinya tidak sah.” Ulama Hanafi berpendapat, “Hajinya sah jika ihramnya diperbaharui setelah ia baligh.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: