Just another WordPress.com site

Kajian Seputar Riba

لَعَنَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِل الرِّبَا وَمُوكِله وَكَاتِبه وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ : هُمْ سَوَاء (رواه مسلم )

أنَّ رَسُولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : (( لَعنَ اللهُ الوَاصِلَةَ، وَالمُسْتَوْصِلَةَ، وَأنَّهُ قَالَ : (( لَعَنَ اللهُ آكِلَ الرِّبَا ،وأنَّهُ لَعَنَ المُصَوِّرِينَ، وأنَّهُ قَالَ : (( لَعَنَ اللهُ مَنْ غيَّرَ مَنَارَ الأَرْضِ )) (()) أيْ حُدُودَهَا ، وأنَّهُ قَالَ : (( لَعَنَ اللهُ السَّارِقَ يَسْرِقُ البَيْضَةَ ، وأنَّهُ قَالَ : (( لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيهِ، وَ لَعَنَ اللهُ من ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ،وأنهُ (( لَعَنَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بالنِّساءِ والمُتَشَبِّهاتِ مِنَ النِّسَاءِ بالرِّجالِ ))

a. Pengertian Riba.

Menurut bahasa riba berarti tambahan (ziyadah-Arab, addition-Inggris), sedangkan menurut istilah, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok sebagai syarat terjadinya suatu taransaksi. Sedangkan menurut Al Jurjani merumuskan riba sebagai kalebihan / tambahan pembayaran tanpa ada ganti / imbalan, yang disyaratkan bagi salah seorang dari dua orang yang membuat akad (transaksi). Jika kita analogikan, riba itu ibarat sebuah ‘’gundukan’’ dijalan yang rata. Jadi, riba itu ialah membuat gundukan pada tanah yang datar. Jadi, riba itu sama dengan menambah sesuatu tanpa melalui proses jual beli. Makanya, al-Qur’an seolah-olah menyamakan antara jual beli dengan riba.

B. Sejarah dan Perkembangan Riba

Di dalam masa sebelum islam, riba sudah menjadi budaya, namun praktek riba pada masa itu  sedikit berbeda dengan riba jaman sekarang yang beragam nama dan jenisnya. Di dalam sebuah tafsir, al-Tobari menjelaskan:

أن ربا أهل الجاهلية: يبيعُ الرجل البيع إلى أجل مسمًّى، فإذا حل الأجل ولم يكن عند صاحبه قضاء، زاده وأخَّر عنه.

Artinya:’’ bahwasanya riba pada era jahilyah itu yaitu ketika seseorang menjual pada waktu tertentu, namun ketika sampai pada waktu yang telah ditetapkan, tetapi tidak bisa menyaur, maka ditambahlah, sampai pada waktu lainnya.

C.     Antara Riba dan Jual beli.

Di dalam al-Qur’an antara Riba dan jual beli memiliki kemiripan di dalam ‘’al-Ziyadah’. Oleh karena itu, al-Qur’an menyebut riba itu seperti halnya jual beli. Hanya saja, yang membedakan antara keduanya di dalam proses transaksinya.

 

D.      Dalil al-Qur’an dan Hadis.

Riba hukumnya haram secara mutlak, berdasarkan dalil al-Qur’an dan hadis Nabi Saw. Di dalam al-Qur’an banyak sekali disinggung oleh Allah Swt seputar besarnya dosa praktek riba. Tidak hanya praktek, yang mendengar serta saksinya juga memperoleh dosa yang setimpal.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِى يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ )

Artinya:’’.  Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.Q.S al-Baqarah (3:275).

Di dalam ayat lain, Allah Swt menjelaskan:’’ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”QS Ali Imran(3 : 130 – 13). Ayat ini mengisaratkan bahwa riba itu membuat sebuah jalan menuju Neraka. Sebagaimana diberitakan bahwa al-Qur’an itu begitu panas dan menyakitkan. Jadi, tidak sedikit dari para pelaku ribawi yang merasakan siksaan bias Api neraka ketika masih hidup di dunia. Selama masih hidup tersiksa dengan diberca, kadang sampai dipenjara. Adapula yang broken home (keluarga berantakan), ketika memasuki usia lanjut juga tersiksa dengan beragam penyakit yang mematikan. Dan ahirnya, meninggalkan dunia yang fana’ ini dalam keadaan yang mengenaskan. Itu semua bias dari praktek riba.

 

Dalam sebuah hadis, Nabi Saw mewanti-wanti kepada semua pengikutnya agar tidak terjebak pada praktek riba. Secara tegas, Nabi Saw menyampaikan sebagai berikut:’’

لَعَنَ اللَّه آكِل الرِّبَا وَمُوَكِّله وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبه وَالْمُحِلّ وَالْمُحَلَّل لَهُ

Artinya:’’ Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah salallaahu alayhi wasallam melaknat mereka yang menerima, yang membayar, yang menyaksikan, dan yang mencatat riba. Sunah Imam Abu Dawud: 16.1249.

 

  1. Macam-macam Riba.

Menurut para ulama’, riba itu dibagi menjadi dua bagian utama. Yaitu Riba al-fadl mengacu pada jumlah (kuantitas). Riba an-Nasiah mengacu pada penundaan waktu. Di bawah ini perincian riba. Dari segi prakteknya memang ada perbedaan sedikit, tetapi dari segi mudorotnya tidak ado. Dosa-dosanya juga akan terasa ketika masih hidup, dan lebin menyedihkan ketika sudah meninggalkan dunia fana’.

A- Riba Fudul :  Penukaran dua barang sejenis dalam jumlah yang tidak sama. Contoh : menukar 2 gram emas dengan 2,5 gram emas yang sama.

(1)   Riba Qardi :  Riba dalam bentuk hutang piutang atau pinjaman dengan syarat ada tambahan atau keuntungan bagi yang memberi pinjaman. Contoh : si A memberikan pinjaman uang Rp 10.000 kepada si B dengan syarat si B harus mengembalikan sebesar Rp 11.000.

(2)   Riba Yad : Riba yang dilakukan dalam transaksi jual beli yang belum diserah terimakan namun oleh si pembeli sudah dijual lagi kepada orang lain. Contoh : si A menjual motor kepada si B tetapi si B belum menerima  motor tersebut, tetapi si B sudah menjual motor tersebut kepada si C.

B- Riba Nasa (Nasiah) Nasiah artinya: riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan.  Riba dengan cara melipat gandakan tambahan karena penundaan waktu pembayaran. Contoh : si A memberikan pinjaman kepada si B sebesar Rp 100.000 dan harus dikembalikan minggu depan, dan ketika sudah jatuh tempo si B tidak bisa mengembalikannya maka si A memperpanjang waktu pembayarannya menjadi satu minggu lagi dengan syarat si B harus mengembalikan sebesar Rp 110.000.

F.      Hukum dosa riba.

Di dalam sebuah tafsirnya, Imam Ibn Katsir menyebutkan bahwa sekecil-kecil dosa pelaku riba, ibarat seorang anak lelaki menikahi ibunya sendiri. Artinya, hukumnya pelaki riba haram secara mutlak. Dan, Nabi Saw pernah melihat seorang laki-laki yang perutnya besar (menggunung). Lelaki itu tidan bisa bergerak sedikitpun. Setelah bertanya kepada Jibril, ternyata lelaki itu termasuk pemakan riba. Ulama sepakat bahwa hukum riba itu haram, dan akan menjadi penghuni Neraka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: