Just another WordPress.com site

Mikot ditinjau dari bahasa (linguistic Arab) berarti” start”. Dalam istilah ulama’, miqot (start) berarti ’’start’’ waktu dan tempat memulai ritual haji atau umrah. Miqot itu sendiri menurut para ulama’ dibagi menjadi dua. Pertama start place (mikot makani), kedua start time (mikot zamani) berdasarkan QS al-Hajj (22:197).

Masing-masing miqot (start hajj) memiliki ketentuan yang berlandaskan al-Qur’an dan hadis. Para sahabat Nabi Saw mampu meng-aplikasikan dengan sebaik-baiknya tanpa menambah dan menguranginya’. Para ulama’ juga melestarikan sunnah Nabi Saw terkait dengan mikot (start haji), baik miqo zamani dan miqot makani. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan antara para ulama. Semua sepakat bahwa mikot zamani dimulai dari bulan Syawwal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah. Berdasarkan firman Allah Swt:’’Al-Hajj Ashurun Ma’lumat” (QS. al-Baqarah (2:197).

Sedangkan mikot makani (Place Start) telah ditentukan oleh Nabi Saw. Sebagaimana hadis riwayat Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar.  Jama’ah haji dan umrah yang datang dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Brunai, mikotnya adalah Yalamlam. Mereka yang langsung menuju Makkah dengan pesawat udara, atau darat dan laut, mesti niat memakai ihram ketika mikot haji (Yalamlam). Jika tidak bisa, karena keadaan, maka tidak ada larangan memakai ihram ketika sebelum berangkat (bandara: Surabaya, Jakarta, Medan). Dikhwatirkan melalui tempat mikot sebelum niat dan mengenakan pakaian ihram.

Manakala melakukan suatu pelanggaran tidak mengambil mikot di Yalamlam, maka wajib baginya utuk kembali ketempat mikot. Jika kesulitan, maka dia mesti membayar denda, karena melakukan pelangaran. Ada sebuah pendapat yang mengemuka, bahwa Jiddah bisa digunakan mikot. Jama’ah haji dan umrah yang datang melaluai perjalanan udara banyak yang mengunakan Jeddah sebagai mikotnya, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ritual haji dan umrah. Ini adalah pendapat salah kaprah, sebab Jeddah termasuk tanah halal.

Syeh Abdullah bi Zaid Ali Mahmud menyampaikan dalam sebuah makalahnya bahwa jama’ah haji dan umrah melalui udara, mereka tidak melalui mikot Makani, sebagai gantinya Jeddah adalah mikot mereka. Pendapat Syeh Abdullah bin Zaid Ali Mahmud di amini oleh Syeh Abdullah al-Ansori. Bahkan Syeh Abdullah al-Ansori menambahkan, bagi siapa saja yang hendak menunaikan haji dan umrah dengan menggunakan perjalanan udara, maka dia mesti mengenakan ihram dari bandara yang terahir (Jeddah), dan niatnya sebelum sampai di Jeddah (di dalam pesawat).

Pendapat lain juga banyak diungkapakaln oleh Kyai dan Ualama’ Indonesia serta Asia tenggara. Mereka menganggap bahwa Jeddah adalah boleh digunakan mikot makani. Alasanya sangat sederhana, mereka mengatakan, bahwa Jeddah-Makkah jaraknya sudah cukup untuk digunakan sholat Qoshor, jawaban ini sangat lemah dan tidak mendasar.

Ada juga yang mengatakan bahwa, perjalanan Jakarta-Jeddah sangat menyulitkan sehingga memungkinkan Jeddah sebagai mikot haji dan umrah. Sangat banyak dan beraneka ragam alasan di dalam melegalkan Jeddah sebagai tempat mikot. Padahal, belum ada literatur yang benar-benar shohih, untuk dijadikan rujukan. Yang shohih, Jeddah adalah tempat mikot haji atau umrah penduduk dan pemukimnya sendiri. Karena Jeddah adalah tanah halal.

Jeddah Bukan Miqot Haji dan Umrah

Beberapa hadis Nabi Saw memberikan penjelasan gamblang bahwa mikotnya ahli Madinah dan sekitarnya adalah Dzul Khulifah (Biir Ali). Sedangkan ahlu al-Syam (Syiria, Moroko, al-Jazair), dan al-Yaman adalah Yalamlam, dan bagi ahli Thoif adalah Qorn al-Manazil (Bukhori dan Muslim). Bagi mereka yang melewati masing-masing mikot yang disebutkan, wajib bagi mereka mengabil mikot darinya.

Mereka yang datang dari Asia tenggara adalah Yalamlam, seperti; Indonesia, Malaysia, Brunai, Filipina, Singgapura. Jika mereka menuju langsung menuju Makkah, secara otomatis akan melewati Yalamlam. Saudi Air Line, selalu memberikan informasi (pengumuman) bagi semua penumpang agar supaya mengenakan Ihram ketika memasuki kawasan Yalamlam (searah dengan mikot Yalamam). Agar memudahkan setiap orang yang berniat menunaikan umrah dan haji. Ini sangat menyulitkan bagi sebagian orang, oleh karena itu hendaknya hendaknya sudah mengenakan ihram sebelum naik pesawat. Ketika petugas menyampaikan bahwa pesawatnya memasuki area Yalamlam, segera niat.

Mikot yang disebutkan adalah ketentuan Nabi, oleh karena itu siapapun yang melewatinya, mesti ber-mikot dari tempat yang telah ditentukan oleh Nabi. Apabila memakai ihram sebelum mikot bukanlah suatu pelangaran, karena hal ini merupakan bentuk kehati-hatian agar tidak terjadi suatu pelanggaran. Sedangkan memakai ihram setelah melewati mikot adalah pelangaran (haram[1]) secara ijma’. Imam Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya “Fathu al-Bari fi Sarah Sohihu al-Bukhori” meletakkan pada bab” fardu mawakiti al-Hajj wa Umrah” artinya “bab wajibnya mengambil mikot bagi jama’ah haji  dan umrah”. Beliau menambahkan tidak diperkenankan mengenakan ihram sebelum memasuki mikot, madhab Imam Syafi’i dan Imam Abu hanifah membolehkanya[2].

 


[1] .   Majalah al-Bukhust al-Islamiyah jilid 31 hal 385. Tahun 1411 H.” Penjelasan Seputar Kesalahan Menjadikan Jeddah Sebagai Tempat Mikot oleh Syeh Abdullah bin al-Baz.

[2] . Al-Asqolani, ibnu Hajar “ Fathu al-Bari Fi Sarhi Sohihu al-Bukhori”- 3/489- Dar al-Qutub al-Ilmiyah, 1989.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: